Dampak
Psikologi Remaja Pelaku Tawuran
Pengertian
Tawuran
Tawuran
merupakan salah satu penyimpangan kelompok yang terjadi secara nonverbal, menurut Henslin (2006/2007) penyimpangan seperti tawuran dilakukan karena
adanya keinginan untuk mencapai suatu tujuan terntentu namun cara untuk
mencapai hal itu tidaklah sah. Tawuran dilakukan secara nonverbal atau dapat dikatakan tindakan kekerasan, tawuran terjadi
seperti sebuah ajang perkelahian antar kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Pelaku
Tawuran
Pelaku tawuran dapat meliputi masyarakat besar seperti tawuran antar
kelompok etnis, namun pada masa ini tawuran yang terjad banyak dilakukan oleh
para remaja atau manusia pada masa adolescence yaitu masa perkembangan manusia
masa kanak-kanak menuju keremajaan, masa remaja ini terbagi berdasarkan rentan
usia, yaitu:
Usia
12-15 tahun (Middle Childhood)
Pelaku tawuran pada usia ini adalah para remaja yang duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama (SMP) di masa ini merupakan awal dari perubahan masa
kanak-kanak menuju remaja seperti perubahan yang terjadi secara afektif dan sosial
(King, 2011).
Usia
16-18 tahun (Late Childhood).
Pelaku
pada usia ini adalah pelaku pelajar yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas
(SMA), pada masa SMA merupakan masa perkembangan para remaja mencari jati diri
mereka menurut Erickson dalam King(2011) dalam proses pencarian jati diri,
mereka akan membuat masalah atau menghadapinya agar para remaja dapat mencari
jati diri para remaja, proses ini merupakan Identity
versus confusion. Pada usia ini para remaja lebih rentan melakukan tawuran
dibandingkan usia Usia 12-15 tahun (Middle
Childhood).
Penyebab
Tawuran
Tawuran yang dilakukan para pelajar itu memiliki tujuan dan tujuannya
sangat bermacam-macam dan juga disebabkan oleh beberapa faktor sehingga
akhirnya para pelajar berani melakukan tawuran, berikut dua macam faktor penyebab
tawuran:
Faktor
Internal. Faktor ini
disebabkan oleh faktor diri sendiri, seperti yang dikatakan oleh King (2011)
bahwa proses pencarian diri dimulai dari para adolescence menghadapi masalah
untuk mengetahui tujuan hidup para remaja selanjutnya. Dengan itu para remaja
pelaku tawuran ini mencari dengan cara berkelahi melawan remaja pelajar lainnya
agar dapat dianggap hebat. Dengan hasrat diri sendiri ingin ikut berpartisipasi
tawuran sekolah agar dapat menemukan jati diri para remaja pelaku tawuran tersebut
dan dianggap hebat oleh lingkungannya.
Faktor
Eksternal. Faktor ini
datang dari lingkungan sekitarnya, seorang remaja terutama laki-laki akan
dianggap payah jika tidak berani melakukan tindakan yang dapat membuat dirinya
terlihat hebat. Masa adolescene lebih
banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sebayanya atu peer group dan kelompok para remaja dapat memberikan pengaruh
positif atau negatif (King, 2011). Jika peer
group dari para remaja itu memberikan dampak negatif maka tidak heran jika
para remaja dapat menjadi pelaku tawuran.
Dampak
bagi para remaja pelaku tawuran
Tawuran
yang dilakukan para remaja pelajar akan sangat memberikan dampak yang buruk
bagi para remaja pelaku tawuran tersebut, dampak buruk ini akan mempengaruhi
beberapa aspek kehidupan pelaku tawuran, yaitu:
Akademis. Tindakan tawuran akan berdampak buruk
bagi para remaja pelajar karena akan menggangu proses pembelajaran yang sedang
para pelaku jalani, jika para pelajar diketahui menjadi pelaku tawuran maka
sekolah akan memberikan hukuman seperti tidak dapat mengikuti pelajaran di
sekolah untuk jangka waktu tertentu atau para pelaku akan diberikan hukuman
seperti dikeluarkan dari sekolah sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya
kembali.
Fisik. Tawuran dilakukan
secara non-verbal dengan tindakan kekerasan dan akan berdampak buruk bagi para
pelaku tawuran yang berkelahi akan menyebabkan cacat fisik atau luka-luka dan
hal ini akan sangat merugikan para remaja yang seharusnya dapat melakukan
berbagai kegiatan menjadi terbatas karena dampak pada fisik para pelaku tawuran
tersebut.
Psikologis. Dampak buruk bagi psikologis
para remaja pelaku tawuran adalah pada masa perkembangan adolescence menuju adult.
pembentukan kepribadian di mulai dari masa adolescene
dan hal-hal yang mereka lakukan di masa adolescence
akan membentuk kerpribadian sampai adult,
seperti para remaja pelaku tawuran pelajar diajarkan kebiasaan untuk berkelahi
dan menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan maka sampai besar nanti
hal itu akan digunakan para pelaku tawuran pelajar untuk mencapai tujuannya.
Proses pembentukan kepribadian para secara psikologi merupakan pendekatan The
behavioral Approach, Menurut Miltenberger (dikutip dalam King, 2011) mengatakan
bahwa the behavioral approach
memiliki tujuan agar manusia dapat menanamkan tindakan yang dilakukan membantu
manusia tersebut dapat menjadi lebih baik. Namun pendekatan behavioral tidak akan berdampak baik
jika hal-hal yang ditanamkan adalah hal negatif. Hal negatif yang dibiarkan akan
menyebabkan kebiasaan yang terbaik di masa depan maka itu harus ada pengaturan
seperti adanya hukuman agar hal negatif yang terjadi tidak dibiasakan. Jika
para remaja terlibat menjadi pelaku tawuran dan diberikan hukuman akan membantu
para remaja pelajar untuk tidak mengulang tindakan tersebut atau menjadikan
kebiasaan dalam kehidupannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi., H., A. (1991). Psikologi sosial. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Henslin., J, M. (2007). Essentials of Scociology: A down to earth
approach ( 6th
ed.). (Dalam W. Hardani, & B. A. Yoso, penerj.). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Karya asli dipublikasikan tahun
2006.
King, L, A. (2011) The science of psychology (2nd ed.).
Columbia: University of
Missouri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar